السبت، 9 مارس 2013

6:50PM GMT 09 Mar 2013
Readers of this column do not need to be reminded why it is so important for us to know whether the world is truly in the grip of runaway global warming, or whether this belief has all been based on a colossal misreading of the scientific evidence. One reason why it is so vital for us to understand this, of course, has been all those devastating political responses to this fear, which promise to change our way of life out of recognition.
Just in Britain alone, paying for our Climate Change Act is officially due to cost us up to £18 billion a year. It is now driving our entire national energy policy, threatening us with ever more crippling bills, power blackouts, and the sight of our countryside being covered in ever more giant wind factories. In convincing the world that we must make such a dramatic response to man-made climate change, nothing has been more persuasive than those graphs that purport to show global temperature soaring to dangerous levels.
That iconic “hockey stick” graph, showing temperatures recently shooting up into the stratosphere, may now have been discredited. But just as important have been all those graphs showing how temperatures have changed in recent decades. These have the effect of greatly exaggerating those changes, by narrowly focusing just on what are called temperature “anomalies”, showing how they have risen and fallen round their average level in the past 30-odd years.
What the graphs do not show is the actual level of global temperature, as it is measured above freezing point. In other words, they leave out by far the greater part of the total picture. So the respected Canadian environmental writer, Lawrence Solomon, recently had the bright idea of publishing in his Financial Post newspaper column a graph showing the temperature changes of the past 15 years in proper perspective, using figures from the most prestigious of all official temperature records, compiled by the UK Met Office and its Hadley Centre.
6:50PM GMT 09 Mar 2013
Readers of this column do not need to be reminded why it is so important for us to know whether the world is truly in the grip of runaway global warming, or whether this belief has all been based on a colossal misreading of the scientific evidence. One reason why it is so vital for us to understand this, of course, has been all those devastating political responses to this fear, which promise to change our way of life out of recognition.
Just in Britain alone, paying for our Climate Change Act is officially due to cost us up to £18 billion a year. It is now driving our entire national energy policy, threatening us with ever more crippling bills, power blackouts, and the sight of our countryside being covered in ever more giant wind factories. In convincing the world that we must make such a dramatic response to man-made climate change, nothing has been more persuasive than those graphs that purport to show global temperature soaring to dangerous levels.
That iconic “hockey stick” graph, showing temperatures recently shooting up into the stratosphere, may now have been discredited. But just as important have been all those graphs showing how temperatures have changed in recent decades. These have the effect of greatly exaggerating those changes, by narrowly focusing just on what are called temperature “anomalies”, showing how they have risen and fallen round their average level in the past 30-odd years.
What the graphs do not show is the actual level of global temperature, as it is measured above freezing point. In other words, they leave out by far the greater part of the total picture. So the respected Canadian environmental writer, Lawrence Solomon, recently had the bright idea of publishing in his Financial Post newspaper column a graph showing the temperature changes of the past 15 years in proper perspective, using figures from the most prestigious of all official temperature records, compiled by the UK Met Office and its Hadley Centre.

PEMANASAN GLOBAL

Pemanasan global (Inggris: global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca

الخميس، 7 مارس 2013

SIKLUS HIDROLOGI

Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.
Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara terus menerus. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.
Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:





  • Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.
  • Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.
  • Air Permukaan - Air bergerak di atas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.
Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS).Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya.Tempat terbesar tejadi di laut.

MY BIOGRAFI


         nama saya intan nurkarina , saya salah satu murid di SMP N 5 MUARA ENIM. saya tinggal di griya lubes asri blok c no 3, tanggal lahir saya 31 maret 1998 :)  setelah saya lulus nanti saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan masuk ke SMA favorit saya.
hobi saya berenang, dan bersepeda.

 saya anak kedua dari 3 bersaudara, dengan sedikit kepandaian saya berbicara alhamdulillah saya mendapatkan peringkat 1 lomba mendongeng se sltp/mts , saya anak perempuan satu-satunya sehingga pekerjaan di rumah, saya yang melakukan di kerenakan ibu saya bekerja dari pagi hingga sore.

 cita-cita saya saat ini ingin menjadi pramugari dan membanggakan kedua orang tua saya. selama 3 tahun saya bersekolah di SMPN 5 MUARA ENIM  saya telah mendapatkan 2 prestasi dalam bidang seni. semoga apa yang saya cita-citakan dapat terwujud, untuk itu saya akan berusaha untuk meraihnya !

 :) keep smile and keep strong :)